Jumat, 30 Januari 2009

Hopefully

Gile... gw lg bener2 down akhir2 ini...
bad things happen
shit happened
seseorang menawarkan dvd The Secret-nya Rhonda Byrne
katanya gw musti fokus sama hal2 positif
terlau naif emang tapi yah it's worth t try
tapi lam2 kok gw malah tamah skeptis yah
terutama soal medical itu lo
yg katana ada orang yg kecelakaan pesawat terus diafragmanya rusak
tapi karena dia membayangkan akan bisa kembali berjalan dankelar dr rumah sakit pas natal
hal tersebut terjadi
gw ga bilang dia bohonhg
tapi gw skeptis aja

Btw, gw mulai nulis lagi
tadinya gw berharap sesuatu yg positif, tapi yah you know lah...
paling susah buat gw nulis y positif2
muahahaha

ini gw dedikasiin buat seseorang. dia mungkin ga baca ini tapi yah ini tentang dia...

Hopefully

Jadi apa kiranya
yang masih dapat aku harapkan
Jika semua doa
Sudah terlanjur diucapkan

Di setiap batang lilin
menari-nari sang lidah api
Menunggu hingga padam
Atau terkena tiupan angin

Dan apa lagi yang dapat kuucapkan padamu
Jika kau memang mengerti isi hatiku

Memang sebaiknya ku lupakan saja
Karena semakin berharap semakin pedih
Tapi setiap kata yang terucap di bibir
Semoga hanya dirimu yang dapat mengerti
yang dapat mengerti

Jadi apa kiranya
yang masih dapat aku percaya
Jika memang masih ada
kekuatan tuk terus berharap

Lalu apa lagi yang dapat kau lakukan untuk ku
Dapatkah dirimu meraih diriku?

Sudah sebaiknya kau lupakan saja
Karena memang tidak ada jalan yang lain
Tapi doa ini jika saja terdengar
masih bolehkah aku berharap tuk berjumpa
untuk satu jam saja

Lalu apa lagi yang dapat ku lakukan
Doa macam apa yang dapat ku panjatkan
Waktu terus saja tiada sedikit bersabar
pengharapan dan kekuatan semakin memudar
Semakin menjadi keyakinan di hati
semakin rapuh dan mendalam luka ini
ku tak dapat lupakan

jelek yah?
maaf yah...

Minggu, 28 Desember 2008

Kaguya: Moments

Aku memandanginya.

Ia cantik sekali seperti biasanya. Kali ini ia memakai gaun terusan bewarna hijau telur asin. Tata rias dan aksesorisnya sesuai dengan latar belakang yang bergaya Mediteranian.Entah bagaiamana mengekspresikan kesempurnaan kecantikannya. Sementara sang fotografer Kak Victor, bosku, sibuk dengan jepretannya, aku menatapnya, memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang berpose di depan lensa. Kulitnya yang berpendar dengan cahaya yang temaram membawa suasana sunguh eksotis.

Lamunanku buyar ketika Kak Victor menyuruhku untuk membereskan ini itu seperti biasa karena pemotretan sudah selesai.
“Alvin, bereskan yah semua, besok baru akan kucuci, jadi rapihkan saja dulu, aku ada urusan lain.”
“Baik,” jawabku singkat.

Ia pun tanpa basa basi lagi membalikan punggung menuju pintu keluar studio.Ia mengenakan kemeja body-fit bewarna abu-abu tanpa motif dan celana jeans yang sobek-sobek. Tubuhnya menebarkan aroma parfum mahal yang dapat tercium dari kejauhan 10 meter, seolah-olah ia menuangkan berbotol-botol parfum pada tubuhnya. Ia memang selalu tampil modis begitu.

Begitu kutolehkan kepalaku lagi, ternyata sang pujaanku sudah tidak disitu. Mungkin ia sudah menuju ruang rias. Ah, sial.

Namanya Kaguya. Nama yang aneh memang. Ia seorang model, setahuku ia baru. Aku belum pernah mengobrol dengannya, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya.

Tentang aku? Namaku Alvin, aku seorang asisten fotografer, jika tidak mau disebut pembantu umum. Aku sebenarnya seorang mahasiswa fakultas hukum tahun ketiga. Aku hanya paruh waktu menjadi asisten fotografer. Fotografi hobiku, aku harap aku bisa menjadi seorang fotografer, yah, walau tidak profesional, amatiran juga tidak apa-apa, yang pasti aku suka jepret menjepret.

Akhirnya selesai juga aku membereskan perlatan yang digunakan hari ini. Aku mematikan lampu dan kemudian menutup pintu studio yang tidak terlalu besar itu. Masih berantakan memang, tapi kupikir besok saja kubereskan. Hari ini lumayan melelahkan.
Entah mataku menipuku atau bagaimana. Ternyata Kaguya sedang berdiri di sampingku. Aku kaget setengah mati dan agak kebingungan. Aku memberi isyarat permisi dan segera pergi menuju parkir sepeda motorku.

“Maaf,”
Aku spontan berhenti mendengar suaranya, tidak percaya kalau kata itu ditujukan kepadaku.
“Eh?”
“Maaf, kau sedang terburu-buru?”
“Tidak juga, kenapa?” Jantungku tiba-tiba berdegup kencang sekali, aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap.
“Kau bisa menemaniku?”
“Eh?”

Akhirnya Kami duduk di sebuah café dan memesan dua cangkir kopi.
“Maaf, tiba-tiba mengajakmu.”
“Tidak apa-apa.”
Aku bingung harus berkata apa, dan mengapa pula tiba-tiba ia mengajakku minum kopi. Kulihat jam tanganku, baru jam 19.00. Detak jantungku sudah kembali normal, namun suasana masih canggung. Kami berdua diam seribu bahasa. Ia malah memalingkan pandangannya ke luar jendela memandangi jalan raya yang sedang macet. Aku terus memandanginya terus.

Cafénya tidak terlalu ramai. Jam segini, orang-orang lebih memilih untuk makan malam ketimbang minum kopi, kupikir. Kami duduk dekat embok kaca menghadap keluar. Kacanya agak basah karena hujan tadi sore, tapsudah berhenti. Memandanikaca aku bisa melihat jalan raya yang padat merayap sekaligus pantulan bayangan kami berdua.

Suasana canggung terus berlanjut, detik-detik terlewat tanpa sepatah katapun. Sudah satu jam mungkin, kulihat jam tanganku, oh baru 10 menit. Lalu kukumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada. Kuputuskan untuk membuka percakapan. Ayo Alvin, pembicaraan tak akan membunuhmu kan?

“Kita sudah sering bertemu, tapi belum pernah bicara sekalipun... Aneh yah…”
Aku merasa aku membuat diriku tampak konyol, atau aku memang sudah terlihat konyol.
Ia tidak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat, kukira ia tidak medengarku. Asyik dengan pikirannya sendiri, lalu untuk apa tiba-tiba mengajakku kesini? Tapi kemudian dengan anggunnya ia mengalihkan pandangannya ke arah ku. Tapi sorot matanya tidak langsung ke mataku. Gerakannya sangat lembut, sungguh seperti seorang putri walaupun ia hanya mengenakan kaos dan jeans. Seoang putri? Aku belum pernah bertemu seorang putri, lalu bagaimana aku dapat menyebutnya seperti seorang putri? Yah pokoknya seperti seorang putri.

Ia ternyata masih belum menjawabku, ia menolehkan lagi pandangannya ke luar, tapi kali ini ia memandang ke atas. Pandanganku pun mengiikutinya, keluar dan keatas. Bulan purnama bewarna keperakan, indah sih. Tapi apa maksudnya. Aku tidak berani bertanya lagi, kuputuskan untuk diam saja.

Sambil tidak memalingkan pandangannya ia menjawab,
“Bagaimana jika kukatakan aku berasal dari sana?”
“Eh?”
“Ya, dari sana.”
“Maksudmu?” Aku tidak menangkap maksudnya. Ia hanya tersenyum simpul. Lembut sekali. Parasnya bertamah lembut dengan senyum simpulnya. Bibirnya hidungnya, garis-garis wajahnya tegas namun tetap lembut. Wajahnya sudah bersih dari tata rias, entah bagaimana ia membersihkannya dalam waktu sesingkat tadi.

“Bagaimana jika kukatakan aku lahir dari sebatang pohon bambu dan dirawat oleh sepasang kakek nenek yang menemukanku di hutan bambu saat bulan purnama?”
“Eh?”
Aku benar-benar bingung. Bingung degnan perkataannya dan bingung sudah berapa “Eh” yang keluar dari bibirku. Ia terus tesenyum simpul, tapi kali ini matanya agak berkaca-kaca. Aku tak berani berkata apa-apa lagi. Kuputuskan diam saja.
Kulihat jam tanganku lagi, jam 19.15. Aku kemudian merasa tidak enak membiarkan suasana cangung begini. Mungkin sebaiknya kucoba saja mencairkan suasana.

“Ku dengar Kak Victor tergila-gila padamu.”
HEBAT! Kenapa malah dengan pertanyaan ini! Dasar bodoh!Kumulai memarahi diriku sendiri dalam hati. Suasana malah tambah canggung! Bodoh! Entah kenapa kumulai dengan pertanyaan itu. Memang sih aku tahu, kerap Kak Victor, Bosku, mengajak Kaguya keluar. Entah kencan atau apa, aku tidak berani tanya.

“Ya kukira begitu sih…”
“Eh?”
Tak kusangka ia menjawab pertanyaanku. Pandangannya masih belum bergeming.
“Kau jadian dengan kak Victor?”
“Tidak.”
“Eh?”
Ia kemudian memalingkan wajahnya menatapku dengan ekspresi yang tidak berubah. Aku tidak bisa menebak apakah ia terganggu dengan pertanyaanku atau bagaimana. Aku pun spontan membuang muka, tapi emudian sedikit menoleh memandang wajahnya, rasanya aku tidak sopan, ah sudahlah, kepalaku isinya terlalu banyak sekarang.

“Kenapa?”
“Ia tidak bisa.”
Aku ingin bertanya apa itu, tapi tidak berani bertanya.
“Siapa pun juga juga tidak ada yang bisa.”
Aku tak berani bertanya atau berkata apa-apa. Kuputuskan diam saja.
“Ternyata memang tidak bisa seperti itu, yah…”
Kali ini pandangannnya menuju cangkir cappucino panasnya yang belum diseruputnya sama sekali.

“Maksudmu?”
“Cinta.”
“Cinta?”
“Aku tidak bisa membalas perasaan mereka, lagi pula mereka hanya melihat wajahku saja.”
“Kukira, kak Victor tidak begitu, setiap detik ia membicarakanmu.”
Ia diam saja, jantungku kini berdegup kencang lagi. Takut salah bicara. Aku kembali membisu.

Ia menghela napas. Aku pun semakin kebingungan.
"Sudah kuperingatkan jangan jatuh cinta padaku, dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri.”
“Bagaimana bisa? Maksudku, maksudmu cinta bisa menyakiti? Maksudku…”
Kuputuskan berhenti, sepertinya tata bahasaku kacau sekali.

“Memang, menurutmu, apa itu cinta?”
Hujan sudah berhenti tapi ternyata ada petir yang ketinggalan tadi dan baru meggelegar sekarang.

“Aku tidak tahu,”
Aku tidak tahu apa yang kukatakan.

“Aku juga, mereka bicara cinta begini cinta begitu, tapi aku tetap tidak tahu.” Ia terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan kalimatnya,
“Tampaknya cinta memang bukan untuk diketahui,”
“Lalu untuk apa?”
Tanyaku polos, aku yakin aku tampak konyol didepannya. Kalau aku sedang berada di acara komedi di TV, ratingku mungkin tinggi.

“Untuk itulah kita mencari artinya bukan?”
Kini matanya berkaca-kaca. Air mata sudah dipelupuk matanya.

“Alvin…”
Dia tahu namaku? Aku lupa apakah aku pernah menyebut namaku sebelumnya.
“Aku… tahu, perasaanmu. Ingin sekali aku tidak dapat membalas perasaanmu. Perasaanmu yang paling tulus”
Aku terdiam, jantungku entah masih berdetak atau bagaimana. Pikiranku osong, aku bingung setengah mati maksudnya apa, hanya ada peasaan seperti ada yang mengiris dadaku. Tapi tahu dari mana dia? Bicara denganku saja baru kali ini.

“Aku tidak punya permintaan apa-apa untukmu,”
“Tampaknya, aku akan menyakitimu, maafkan aku…”
Kali ini air matanya membanjir.

Aku hanya memandanginya menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa saat, tampaknya ia bisa menguasai dirinya lagi.

“kau mau pulang, kuantar pulang, dimana rumahmu?”
Ia diam saja,
“Kau mau mampir ke tempatku?”
Entah apa yang ada di pikiranku mengajaknya ke apartemenku. Apakah aku terdengar mesum. Bukan itu maksudku tentunya.
Ia tidak menjawab hanya mengangguk.

Sepanjang perjalanan menuju apartemenku, ia memelukku dari belakang, sementara aku sambil merasakan kehangatannya melajukan sepeda motorku. Kami tidak berkata apa-apa. Setelah sampai pun dalam lift kami tidak berkata apa-apa. Otakku penuh tanda tanya aku tidak mengerti perkataanya sepatahpun. Apa ia hanya mempermainkanku atau aku yang terlampau bodoh, aku tidak tahu.

Yang pasti kini ia berada di kamarku. Hanya duduk di atas tempat tidurku dan diam seribu bahasa. Matanya sedikit merah. Ia tampaknya lebih banyak menahan air mata. Ku tawarkan minum namun ia menolaknya.

“Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan saja.”
Tapi ia tetap diam saja, kuputuskan untuk meninggalkannya sejenak, mungkin ia perlu menenangkan diri, mungkin ia habis bertengkar dengan orangtuanya atau dengan Kak Victor atau mungkin-mungkin yang lain.

“Sebenarnya…”
Ia angkat bicara, aku kemudian memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Sebenarnya ini malam terakhirku,”

Aku diam saja. Masih belum bisa mencerna perkataannya.

“Malam terakhirku disini, sebentar lagi aku akan kembali.”
Aku masih diam saja, keluar negeri? Terkaku dalam hati.
“Aku akan kembali kesana, ketempatku sebenarnya…”
Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya namun terhenti disitu.

Ia kemudian hanya menunduk. Setelah sekian menit ia akhirnya melanjutkan.
"Aku akhirnya bisa bersamamu."
Bukankah kita sering bertemu? Bukankah setelah sekian lama kau bisa mengajakku bicara atau kenalan? Aku tiak paham apa maksudnya. Tapi mungkin ia juga idak berani mengungkapkan perasaannya. Wajarlah, seorang putri secantik dirinya jatuh cinta pada seorang pecundang? Apa kata dunia?

Kamark idak terlalu terang. Ak memang suka suasana yang redup. Dari jendela kaca besar menuju beranda sinar bulan purnama masuk dan menerangi kamar tidurku. Seolah-olah sinarnya mengalahkan sinar lampu yang memang agak remang-remang di kamarku.

Entah setan apa yang merasukiku, aku berani melingkarkan tanganku dipundaknya. Ia sekonyong-konyong merebahkan kepalanya dan airmatanya tumpah. Ia menangis terisak-isak sejadi-jadinya.

Aku merangkulkan tanganku satu lagi dan memeluknya. Momen ini terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja semua terjadi. Aku tak berpikir lagi. Aku memeluknya erat. Entah aku bermimpi atau apa, pujaanku kini ada dipelukanku. Aku memutuskan untuk berhenti berpikir. Saat-saat berikutnya pun berlangsung tanpa kata-kata.

Lama juga ia kupeluk, kemudian ia menengadahkan wajahnya ke wajahku. Dengan lembut kukecup bibir lembutnya. Ia memejamkan matanya, begitu pula aku.
Rasanya semua terjadi begitu saja. Aku tak berani membuka mata, kukecup bibirnya, hidungnya, matanya, tengkuknya. Tapi tak kucium aroma apapun. Tidak aroma parfum atau aroma tubuh manusia biasa. Aku tak ambil pusing, semua terjadi begitu cepat.

Kemudian kupeluk tubuhnya. Kulitku dan kulitnya saling bersentuhan. Kuyakin ia dapat merasakan denyut jantungku dipunggungnya. Kukecupi kepalanya. Kami tak berkata apa-apa sampai aku pun terlelap tidur dan ia dipelukanku.

Entah mimpi atau apa. Rasanya belum lama aku tertidur, tapi ia tak ada di pelukanku. Dan ketika kubuka mata, ia sudah tidak ada di atas tempat tidurku. Akupun bangun, dan ku tak dapat percaya dengan apa yang kulihat. Ku tarik selimut dan melingkarkannya di pinggangku. Kulihat ke arah jendela luar.

Langit sunguh terang. Aku pun keluar ke beranda, takjub dengan pemandangan yang kulihat. Seolah-olah sinar bulan merobek kegelapan cakrawala malam. Lebih berderang dari apapun. Aku sambil melindungi mataku dengan tanganku berusaha menangkap apa yang terjadi. Sinarnya benar-benar membutakan mata. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, masakan bulan bisa seterang itu. Tapi ku yakin dan ku tahu itu rembulan.

Entah apakah ada orang lain yang melihat atau tidak. Jika kuceritakan pada orang lain, mungkin mereka akan segera menelepon Rumah Sakit Jiwa.

Diantara sinar yang sangat berderang danmembutakan mata itu ku tangkap bayangan samar-samar seorang wanita rambut hitamnya tergerai panjang berkilau-kilauan. Ia memakai gaun seperti kimono panjang bewarna merah persik. Ia dikawal oleh beberapa wanita yang tampak seperti dayang-dayang. Mereka seperti melayang-layang sambil menari-nari mengawal sang Tuan Putri ditengah. Sinar terlalu terang, aku tak pasti dengan yang kulihat. Ku sebut namanya sedikit berbisik, “Kaguya,” dan samar-samar kulihat, wanita itu menoleh kebelakang sedikit dan kuyakin ia sedang berurai air mata. Ia dan para dayangnya tampak seperti melayang didalam sinar itu dan sekonyong-konyong menghilang ditelan cahaya.

Dan kemudian kelopak-kelopak bunga bewarna merah muda berjatuhan seperti menari dan sinar itu pun padam seketika. Kelopak-kelopak bunga menari-nari di udara dan sebagian menuju ke arahku.

Esok paginya aku terbangun. Sinar matahari menembuh begitu saja jendela kaca berandaku. Rupana aku tidak menutup jendela. Kepalaku agak sakit, sepertinya aku bermipi semalam. Aku hanya sendiri di kamarku. Aku juga tidak pasti dengan apa yang terjadi semalam. Tidak ada tanda-tanda Kaguya atau siapapun di kamarku semalam. Tapi rasanya nyata sekali. Entahlah. Aku pun mulai berpakaian.Hari ini aku akan sibuk di kampus dan di studio.

Namun ketika ku ke luar beranda, betapa kagetnya aku, ternyata ada banyak kelopak bunga bewarna merah muda berserakan. Ku kira bunga Sakura tidak tumbuh di Jakarta. Lagipula tidak ada yang menanam pohon Sakura di lantai 20, bukan? Sudahlah, aku juga tidak bisa menjelaskannya, aku harus segera ke studio, hari ini kami ada pemotretan kaguya lagi. Semalam aku bermimpi indah sekaligus aneh tentang kaguya. Tampaknya fantasi liarku kali ini sudah agak berlebihan.

Sesampainya di Studio, bertambah kagetlah aku. Ternyata tak seorangpun, termasuk Kak Victor tahu tentang Kaguya.

“Sejak kapan kita memotret model? Kita kan hanya memotret pemandangan. Sejak kapan pula ada yang bernama Kaguya?”

Sudahlah, tampaknya pikiranku sudah mulai tidak waras. Jomblo selama 22 tahun memang merusak otak. Atau aku sebaiknya ambil cuti kuliah. Kegiatan kuliah dan fotograferku menguras energiku sampai-sampai jiwaku pun ikut terguncang.

Malam ini di beranda apatemenku kupandangi Bulan. Masih bulan purnama seperti kemarin. Bulan sungguh indah. Kuambil kameraku dan kupotret Bulan purnama sebagai objek. Kameraku kamera dijital biasa, belum mampu aku membeli kamera yang mahal seperti yang dipakai para fotografer profesional.

Setelah beberapa jepretan, ternyata kejutan belum berakhir. Aku melihat sosok wajah seorang wanita sedang memandangku lembut. Mungkin mataku salah. Namun setelah kupindahkan ke lap top ku dan ku zoom untuk memperjelas. Ternyata itu wajah Kaguya sedang tersenyum tersamar dengan permukaan Bulan yang pucat. (des 08, HW)

Jumat, 26 Desember 2008

tentang mu

Siapa juga pasti punya "sisi gelap" dalam hatinya. Gak kecuali gw kok, kadang2 hal itu bikin qta minder dan mau gak mau, suka gak suka, yah qta harus mengakui bahwa banyak hal yang berjalan TIDAK sesuai yg qta kehendaki.

Tapi qta jangan berkecil hati, mungkin aja cara pendang qta yg salah. Semua kan hanya ada di kepala. Saat qta merasa orang lain bermasalah sebenarnya yang bermasalah adalah DIRI KITA SENDIRI. yah gak sih? Seseorang menyebalkan karena PIKIRAN KITA yang mengatakan hal itu menyebalkan. Qta didikte oleh pikiran kita. Aduh jadi out of topic dikit, heheeh. Sama aja kayak masalah. Mungkin aja cara pandang kita yg salah. Sebenarnya yang penting bukan BESARNYA MASALAH tapi acra peandangnya. Contoh: Menurut gw nilai gw ANCUR dgn dominasi B-, tapi setidaknya gw dah lakukan yg terbaik, harusnya gw bersyukur dan memberi selamat pada diri sendiri. Kalo semakin gw ngebandingin sama temen2 gw, gw malah jadi agk bisa bersyukur sdan depresi. Ada kata2 bijak:

"Jadilah yang terbaik versi dirimu sendiri dari pada menurut orang lain"

SETUBUH!!! Eh SETUJUH!!!

SO, it’s all about you guys…

If there is anyone in THIS VERY WORLD gets all his wish without any sacrifice, I’d realy love to see him. ANYWAY, What I have lost is what you possess… and I’m longing to it

and that is so dazzling!!!

rainy day

Guys, ada hal yang sangat klise sekali. "Badai pasti Berlalu". kata2 yg usang, dah gak keren lagi. Kalo gw bilang kata itu, pasti pada bilang "BASIIIII!!!!"

Emang dah gak keren lagi kayaknya. Tapi gw percaya badai pasti berlalu. Hujan akan berhenti dan akan ada pelangi

NO RAIN CAN"T GET THE RAINBOW

Kedengarannya emang dah kampungan. Tapi guys, percayalah. Emang begitu adanya.

Buat temen2 gw yang masih "kehujanan", hehhehe, bersabarlah. Ada waktunya nanti sinar memecah awan dari langit menyinari kalian seolah memberi ucapan selamat menempuh jalan yang kemudian kalian pilih…

Bersabarlah menunggu dalam hujan! Tunjukan senyum yang paling lembut dalam hujan terderas sekalipun!

Secret

Beberapa orang menilai gw dengan mudahnya. Mereka bilang gw masih polos. Masak sih? Pasti ada yg protes deh hehehe… Semua dari gw gampang ditebak? Masak sih. Yah inilah rahasia gw, yaitu gw mau kalian berpikir begitu.

Tadinya gw sendiri juga gak sadar. Mungkin itu salah satu defense mechanism gw. Gw selalu mengkambing hitamkan defense mekanisme. Yah entahlah, apa itu salah? Gw sendiri gak bisa jawab. Salah satu pelarian gw kali yah. menyalahkan defense mekanisme, sesuatu yg diluar alam sadar gw jadi di luar kuasa gw.

Gw gak nyalain mereka sih. Mungkin gw emang yg salah. Gw tahu banyak orang masih anggap remeh gw. Malah kadang gw sendiri juga gitu. Tapi gw sedih lho kalo cuman dipandang sebelah mata begitu.

Gw ini orang aneh, gw juga berpikir begitu. Di satu sisi gw mau nyembunyiin perasaan gw, tapi di saat yg sama gw berharap banget ada yg mau ngerti gw. Tapi begitu ada yg kelihatannya mulai tahu, gw ketakutan. Tapi saat gak ada orang gw mau ada orang dan ngebeberin semua. Aneh lah. Gw sendiri gak tahu gw maunya gimana.

Gw cuman mau nanya ke semua orang, di retina kalian, gw ini bentuknya seperti apa? Gw gak kakan nyalahin kalian kalu kalian ketawa. Silahkan aja, kalo lawakan emang belom cukup. Gw masih disini, dengan sayap gw yang cuman satu, terus mencari tempat gw yg sebenarnya. Where I belong.

Gw kira gw dah temuin tempat gw, tapi ternyata gw gak bisa selamanya disitu. Gw takut orang2 disitu malah kecewa sama gw sama seperti gw kecewa sama mereka dan tempat itu.


How am I looked

In your eyes from your place?

Please laugh away

These days of mine filled with false things

Before it’s too late

Even when I get tired of flying

I don’t even have courage to rest my wing

If I could have a wish come true

Take me away from here, please

I’m still here and searching as before

For a place I can fit in

I heartily wish

This feeling could reach you alone

I want nothing else

pathetic world

Teman2ku, pernah gak sih kita mikir kita di dunia ngapain? Kita berbuat baik, menyenangkan hati ortu, teman, dll sebenarnya buat apa? Agama mencoba memberi rasionalisasi yaitu dgn iming2 masuk surga?

Jadi dengan kata lain, singkatnya aja, kita semua takut menderita, gak mau susah, takut neraka, karena itulah kita berbuat baik, menjalankan perintah agama. Agama emang hebat sekali dalam hal mencuci otak manusia, dan gw akuin kok hal itu baik adanya dan kalo gak ada agama, mungkin gak ada kontrol terhadap tingkah laku kita. Tapi perhatikan disini, pencucian otak, yah pencucian otaklah yang terjadi. Buktinya aja, sedikit sekali (gw gak bilang gak ada sama sekali, lho!) orang yang berbelas kasih karena emang hatinya. Hampir semua orang (termasuk gw kok) berbuat baik karena perintah agama, biar masuk surga, biar dapet pahala, biar karmanya baik, dsb. Lihat, SEMUA AGAMA MUNAFIK kan? Gw kedengaran kayak Atheis yah? Gw gak bilang Tuhan itu gak ada. Dan hanya dialah yg benar. Semua agama tidak ada yg benar. Alkitab juga pernah bilang kan? Tidak ada seorang pun yang benar, jadi yah gak ada yg benar. Umat beragama adalah kumpulan orang2 sotoy yg berusaha merasionalisasikan hal2 yg dianggap benar dijadikan panutan. Itu aja.

Gw gak bilang gak beragama itu lebih baik. Gw gak menentang agama apapun. Gw cuman menawarkan alternatif jalan pemikiran lain. Jangan cari kebenaran disini. TIDAK ADA KEBENARAN YANG MUTLAK. semuanya relatif. Semuanya ada standar/pembandingnya.

Coba pikir deh, kenapa nyolong itu salah? Karena melanggar hak orang lain? Melanggar hukum? Nah, peraturan kayak gitu siapa yg buat? Manusia kan? Coba kalo semula, manusia berpendapat bahwa nyolong itu perbuatan paling mulia. Nah, nyolong gak dosa lagi kan? Jadi siapa yg nentuin dosa? Manusia kan? Bukan maksud gw bilang nyolong itu boleh. Gw gak suka pencuri, kecuali yg keren kayak Kid di Conan, hehehe.Gw cuman mao bilang bahwa, coba deh kita renungkan, kita pikirin lagi, jangan menerima mentah2 segala hal yg kita terima. Jangan mao dibutain dan dicuci otak. SEMUA HARUS MASUK LOGIKA.

Hukum kasih yang utama: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap HATIMU dan dengan SEGENAP AKAL BUDIMU."

Jangan bilang "Ph, gw beriman, emang gak masuk logika, tapi hati gw percaya…" BULLSHIT!! kalo imanlu membabi buta, itu bukan iman, Lu belum mencintai Tuhan Allah lu. Lu cuman desperate karena gak ada pegangan dalam hiduplu dan mencari Sang kambing hitam Agung. Lu beriman sama Kambing hitam bukan sama Tuhan. Pakailah hatimu dalam mencintai Tuhan dan juga OTAKMU. Jangan mao dicuci otak

Akhir kata, gw gak menaentang apapun, dan gak melawan apapun, gw hanya menawarkan jalan berpikir gw.. komen yah. Thx, heheheehehehe

memahami sambil disalah pahami

Guys, kata orang sih kita harus memperlakukan orang lain seperti kita mau orang lain memperlakukan kita. Misalnya kita mencintai maka kita akan dicintai, memaafkan maka dimaafkan, memberi dan mendampatkan.
Gw orang yang sangat setubuh alias setujuh dengan ini. SANGAT SETUJUH malah.
KECUALI Hal memahami. Memahami bukan berarti di pahami secara otomatis. Kita mau memahami seseorang, eee malah disalahpahami. CHAPEI DHEEE
Abis mau gimana lagi, memang begitulah qta hidup di dunia yang penuh dengan syak prasangka (ejaannya bener gak yah?)
Kalo mao contoh BUANYAK BUANGET, misalnya kita mau memberi perhatian karena qta perduli, eee malah dikira PDKT lah apa lah… chapei dhei
Berhati2lah karena mungkin orang2 disekitar kita sedang membawa pisau dan siap menikam kita, tapi pisau itu disembunyikan dengan senyuman.
Jadi apa kuncinya? Kita sebaiknya tetap selalu mengutamakan memahami orang lain dulu. Insya Allah, orang lain bisa melihat ketulusan kita dan gak disalahpahami lagi… yah jadilah proaktif lah… Kalo disalhpahami yah wajar, beri bukti2 ketulusan/kesungguhan kita. ga usah ngomel2/marah2 yg cuman meperkeruh masalah
Ok guys… ditunggu commentnya…