Aku memandanginya.
Ia cantik sekali seperti biasanya. Kali ini ia memakai gaun terusan bewarna hijau telur asin. Tata rias dan aksesorisnya sesuai dengan latar belakang yang bergaya Mediteranian.Entah bagaiamana mengekspresikan kesempurnaan kecantikannya. Sementara sang fotografer Kak Victor, bosku, sibuk dengan jepretannya, aku menatapnya, memperhatikan setiap lekuk tubuhnya yang berpose di depan lensa. Kulitnya yang berpendar dengan cahaya yang temaram membawa suasana sunguh eksotis.
Lamunanku buyar ketika Kak Victor menyuruhku untuk membereskan ini itu seperti biasa karena pemotretan sudah selesai.
“Alvin, bereskan yah semua, besok baru akan kucuci, jadi rapihkan saja dulu, aku ada urusan lain.”
“Baik,” jawabku singkat.
Ia pun tanpa basa basi lagi membalikan punggung menuju pintu keluar studio.Ia mengenakan kemeja body-fit bewarna abu-abu tanpa motif dan celana jeans yang sobek-sobek. Tubuhnya menebarkan aroma parfum mahal yang dapat tercium dari kejauhan 10 meter, seolah-olah ia menuangkan berbotol-botol parfum pada tubuhnya. Ia memang selalu tampil modis begitu.
Begitu kutolehkan kepalaku lagi, ternyata sang pujaanku sudah tidak disitu. Mungkin ia sudah menuju ruang rias. Ah, sial.
Namanya Kaguya. Nama yang aneh memang. Ia seorang model, setahuku ia baru. Aku belum pernah mengobrol dengannya, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya.
Tentang aku? Namaku Alvin, aku seorang asisten fotografer, jika tidak mau disebut pembantu umum. Aku sebenarnya seorang mahasiswa fakultas hukum tahun ketiga. Aku hanya paruh waktu menjadi asisten fotografer. Fotografi hobiku, aku harap aku bisa menjadi seorang fotografer, yah, walau tidak profesional, amatiran juga tidak apa-apa, yang pasti aku suka jepret menjepret.
Akhirnya selesai juga aku membereskan perlatan yang digunakan hari ini. Aku mematikan lampu dan kemudian menutup pintu studio yang tidak terlalu besar itu. Masih berantakan memang, tapi kupikir besok saja kubereskan. Hari ini lumayan melelahkan.
Entah mataku menipuku atau bagaimana. Ternyata Kaguya sedang berdiri di sampingku. Aku kaget setengah mati dan agak kebingungan. Aku memberi isyarat permisi dan segera pergi menuju parkir sepeda motorku.
“Maaf,”
Aku spontan berhenti mendengar suaranya, tidak percaya kalau kata itu ditujukan kepadaku.
“Eh?”
“Maaf, kau sedang terburu-buru?”
“Tidak juga, kenapa?” Jantungku tiba-tiba berdegup kencang sekali, aku tidak tahu bagaimana seharusnya aku bersikap.
“Kau bisa menemaniku?”
“Eh?”
Akhirnya Kami duduk di sebuah café dan memesan dua cangkir kopi.
“Maaf, tiba-tiba mengajakmu.”
“Tidak apa-apa.”
Aku bingung harus berkata apa, dan mengapa pula tiba-tiba ia mengajakku minum kopi. Kulihat jam tanganku, baru jam 19.00. Detak jantungku sudah kembali normal, namun suasana masih canggung. Kami berdua diam seribu bahasa. Ia malah memalingkan pandangannya ke luar jendela memandangi jalan raya yang sedang macet. Aku terus memandanginya terus.
Cafénya tidak terlalu ramai. Jam segini, orang-orang lebih memilih untuk makan malam ketimbang minum kopi, kupikir. Kami duduk dekat embok kaca menghadap keluar. Kacanya agak basah karena hujan tadi sore, tapsudah berhenti. Memandanikaca aku bisa melihat jalan raya yang padat merayap sekaligus pantulan bayangan kami berdua.
Suasana canggung terus berlanjut, detik-detik terlewat tanpa sepatah katapun. Sudah satu jam mungkin, kulihat jam tanganku, oh baru 10 menit. Lalu kukumpulkan sisa-sisa keberanian yang ada. Kuputuskan untuk membuka percakapan. Ayo Alvin, pembicaraan tak akan membunuhmu kan?
“Kita sudah sering bertemu, tapi belum pernah bicara sekalipun... Aneh yah…”
Aku merasa aku membuat diriku tampak konyol, atau aku memang sudah terlihat konyol.
Ia tidak langsung menjawab. Ia terdiam sesaat, kukira ia tidak medengarku. Asyik dengan pikirannya sendiri, lalu untuk apa tiba-tiba mengajakku kesini? Tapi kemudian dengan anggunnya ia mengalihkan pandangannya ke arah ku. Tapi sorot matanya tidak langsung ke mataku. Gerakannya sangat lembut, sungguh seperti seorang putri walaupun ia hanya mengenakan kaos dan jeans. Seoang putri? Aku belum pernah bertemu seorang putri, lalu bagaimana aku dapat menyebutnya seperti seorang putri? Yah pokoknya seperti seorang putri.
Ia ternyata masih belum menjawabku, ia menolehkan lagi pandangannya ke luar, tapi kali ini ia memandang ke atas. Pandanganku pun mengiikutinya, keluar dan keatas. Bulan purnama bewarna keperakan, indah sih. Tapi apa maksudnya. Aku tidak berani bertanya lagi, kuputuskan untuk diam saja.
Sambil tidak memalingkan pandangannya ia menjawab,
“Bagaimana jika kukatakan aku berasal dari sana?”
“Eh?”
“Ya, dari sana.”
“Maksudmu?” Aku tidak menangkap maksudnya. Ia hanya tersenyum simpul. Lembut sekali. Parasnya bertamah lembut dengan senyum simpulnya. Bibirnya hidungnya, garis-garis wajahnya tegas namun tetap lembut. Wajahnya sudah bersih dari tata rias, entah bagaimana ia membersihkannya dalam waktu sesingkat tadi.
“Bagaimana jika kukatakan aku lahir dari sebatang pohon bambu dan dirawat oleh sepasang kakek nenek yang menemukanku di hutan bambu saat bulan purnama?”
“Eh?”
Aku benar-benar bingung. Bingung degnan perkataannya dan bingung sudah berapa “Eh” yang keluar dari bibirku. Ia terus tesenyum simpul, tapi kali ini matanya agak berkaca-kaca. Aku tak berani berkata apa-apa lagi. Kuputuskan diam saja.
Kulihat jam tanganku lagi, jam 19.15. Aku kemudian merasa tidak enak membiarkan suasana cangung begini. Mungkin sebaiknya kucoba saja mencairkan suasana.
“Ku dengar Kak Victor tergila-gila padamu.”
HEBAT! Kenapa malah dengan pertanyaan ini! Dasar bodoh!Kumulai memarahi diriku sendiri dalam hati. Suasana malah tambah canggung! Bodoh! Entah kenapa kumulai dengan pertanyaan itu. Memang sih aku tahu, kerap Kak Victor, Bosku, mengajak Kaguya keluar. Entah kencan atau apa, aku tidak berani tanya.
“Ya kukira begitu sih…”
“Eh?”
Tak kusangka ia menjawab pertanyaanku. Pandangannya masih belum bergeming.
“Kau jadian dengan kak Victor?”
“Tidak.”
“Eh?”
Ia kemudian memalingkan wajahnya menatapku dengan ekspresi yang tidak berubah. Aku tidak bisa menebak apakah ia terganggu dengan pertanyaanku atau bagaimana. Aku pun spontan membuang muka, tapi emudian sedikit menoleh memandang wajahnya, rasanya aku tidak sopan, ah sudahlah, kepalaku isinya terlalu banyak sekarang.
“Kenapa?”
“Ia tidak bisa.”
Aku ingin bertanya apa itu, tapi tidak berani bertanya.
“Siapa pun juga juga tidak ada yang bisa.”
Aku tak berani bertanya atau berkata apa-apa. Kuputuskan diam saja.
“Ternyata memang tidak bisa seperti itu, yah…”
Kali ini pandangannnya menuju cangkir cappucino panasnya yang belum diseruputnya sama sekali.
“Maksudmu?”
“Cinta.”
“Cinta?”
“Aku tidak bisa membalas perasaan mereka, lagi pula mereka hanya melihat wajahku saja.”
“Kukira, kak Victor tidak begitu, setiap detik ia membicarakanmu.”
Ia diam saja, jantungku kini berdegup kencang lagi. Takut salah bicara. Aku kembali membisu.
Ia menghela napas. Aku pun semakin kebingungan.
"Sudah kuperingatkan jangan jatuh cinta padaku, dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri.”
“Bagaimana bisa? Maksudku, maksudmu cinta bisa menyakiti? Maksudku…”
Kuputuskan berhenti, sepertinya tata bahasaku kacau sekali.
“Memang, menurutmu, apa itu cinta?”
Hujan sudah berhenti tapi ternyata ada petir yang ketinggalan tadi dan baru meggelegar sekarang.
“Aku tidak tahu,”
Aku tidak tahu apa yang kukatakan.
“Aku juga, mereka bicara cinta begini cinta begitu, tapi aku tetap tidak tahu.” Ia terdiam sejenak, kemudian ia melanjutkan kalimatnya,
“Tampaknya cinta memang bukan untuk diketahui,”
“Lalu untuk apa?”
Tanyaku polos, aku yakin aku tampak konyol didepannya. Kalau aku sedang berada di acara komedi di TV, ratingku mungkin tinggi.
“Untuk itulah kita mencari artinya bukan?”
Kini matanya berkaca-kaca. Air mata sudah dipelupuk matanya.
“Alvin…”
Dia tahu namaku? Aku lupa apakah aku pernah menyebut namaku sebelumnya.
“Aku… tahu, perasaanmu. Ingin sekali aku tidak dapat membalas perasaanmu. Perasaanmu yang paling tulus”
Aku terdiam, jantungku entah masih berdetak atau bagaimana. Pikiranku osong, aku bingung setengah mati maksudnya apa, hanya ada peasaan seperti ada yang mengiris dadaku. Tapi tahu dari mana dia? Bicara denganku saja baru kali ini.
“Aku tidak punya permintaan apa-apa untukmu,”
“Tampaknya, aku akan menyakitimu, maafkan aku…”
Kali ini air matanya membanjir.
Aku hanya memandanginya menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Setelah beberapa saat, tampaknya ia bisa menguasai dirinya lagi.
“kau mau pulang, kuantar pulang, dimana rumahmu?”
Ia diam saja,
“Kau mau mampir ke tempatku?”
Entah apa yang ada di pikiranku mengajaknya ke apartemenku. Apakah aku terdengar mesum. Bukan itu maksudku tentunya.
Ia tidak menjawab hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan menuju apartemenku, ia memelukku dari belakang, sementara aku sambil merasakan kehangatannya melajukan sepeda motorku. Kami tidak berkata apa-apa. Setelah sampai pun dalam lift kami tidak berkata apa-apa. Otakku penuh tanda tanya aku tidak mengerti perkataanya sepatahpun. Apa ia hanya mempermainkanku atau aku yang terlampau bodoh, aku tidak tahu.
Yang pasti kini ia berada di kamarku. Hanya duduk di atas tempat tidurku dan diam seribu bahasa. Matanya sedikit merah. Ia tampaknya lebih banyak menahan air mata. Ku tawarkan minum namun ia menolaknya.
“Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan saja.”
Tapi ia tetap diam saja, kuputuskan untuk meninggalkannya sejenak, mungkin ia perlu menenangkan diri, mungkin ia habis bertengkar dengan orangtuanya atau dengan Kak Victor atau mungkin-mungkin yang lain.
“Sebenarnya…”
Ia angkat bicara, aku kemudian memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Sebenarnya ini malam terakhirku,”
Aku diam saja. Masih belum bisa mencerna perkataannya.
“Malam terakhirku disini, sebentar lagi aku akan kembali.”
Aku masih diam saja, keluar negeri? Terkaku dalam hati.
“Aku akan kembali kesana, ketempatku sebenarnya…”
Ia tak sanggup meneruskan kata-katanya namun terhenti disitu.
Ia kemudian hanya menunduk. Setelah sekian menit ia akhirnya melanjutkan.
"Aku akhirnya bisa bersamamu."
Bukankah kita sering bertemu? Bukankah setelah sekian lama kau bisa mengajakku bicara atau kenalan? Aku tiak paham apa maksudnya. Tapi mungkin ia juga idak berani mengungkapkan perasaannya. Wajarlah, seorang putri secantik dirinya jatuh cinta pada seorang pecundang? Apa kata dunia?
Kamark idak terlalu terang. Ak memang suka suasana yang redup. Dari jendela kaca besar menuju beranda sinar bulan purnama masuk dan menerangi kamar tidurku. Seolah-olah sinarnya mengalahkan sinar lampu yang memang agak remang-remang di kamarku.
Entah setan apa yang merasukiku, aku berani melingkarkan tanganku dipundaknya. Ia sekonyong-konyong merebahkan kepalanya dan airmatanya tumpah. Ia menangis terisak-isak sejadi-jadinya.
Aku merangkulkan tanganku satu lagi dan memeluknya. Momen ini terjadi begitu saja. Tiba-tiba saja semua terjadi. Aku tak berpikir lagi. Aku memeluknya erat. Entah aku bermimpi atau apa, pujaanku kini ada dipelukanku. Aku memutuskan untuk berhenti berpikir. Saat-saat berikutnya pun berlangsung tanpa kata-kata.
Lama juga ia kupeluk, kemudian ia menengadahkan wajahnya ke wajahku. Dengan lembut kukecup bibir lembutnya. Ia memejamkan matanya, begitu pula aku.
Rasanya semua terjadi begitu saja. Aku tak berani membuka mata, kukecup bibirnya, hidungnya, matanya, tengkuknya. Tapi tak kucium aroma apapun. Tidak aroma parfum atau aroma tubuh manusia biasa. Aku tak ambil pusing, semua terjadi begitu cepat.
Kemudian kupeluk tubuhnya. Kulitku dan kulitnya saling bersentuhan. Kuyakin ia dapat merasakan denyut jantungku dipunggungnya. Kukecupi kepalanya. Kami tak berkata apa-apa sampai aku pun terlelap tidur dan ia dipelukanku.
Entah mimpi atau apa. Rasanya belum lama aku tertidur, tapi ia tak ada di pelukanku. Dan ketika kubuka mata, ia sudah tidak ada di atas tempat tidurku. Akupun bangun, dan ku tak dapat percaya dengan apa yang kulihat. Ku tarik selimut dan melingkarkannya di pinggangku. Kulihat ke arah jendela luar.
Langit sunguh terang. Aku pun keluar ke beranda, takjub dengan pemandangan yang kulihat. Seolah-olah sinar bulan merobek kegelapan cakrawala malam. Lebih berderang dari apapun. Aku sambil melindungi mataku dengan tanganku berusaha menangkap apa yang terjadi. Sinarnya benar-benar membutakan mata. Kalau dipikir-pikir lagi sekarang, masakan bulan bisa seterang itu. Tapi ku yakin dan ku tahu itu rembulan.
Entah apakah ada orang lain yang melihat atau tidak. Jika kuceritakan pada orang lain, mungkin mereka akan segera menelepon Rumah Sakit Jiwa.
Diantara sinar yang sangat berderang danmembutakan mata itu ku tangkap bayangan samar-samar seorang wanita rambut hitamnya tergerai panjang berkilau-kilauan. Ia memakai gaun seperti kimono panjang bewarna merah persik. Ia dikawal oleh beberapa wanita yang tampak seperti dayang-dayang. Mereka seperti melayang-layang sambil menari-nari mengawal sang Tuan Putri ditengah. Sinar terlalu terang, aku tak pasti dengan yang kulihat. Ku sebut namanya sedikit berbisik, “Kaguya,” dan samar-samar kulihat, wanita itu menoleh kebelakang sedikit dan kuyakin ia sedang berurai air mata. Ia dan para dayangnya tampak seperti melayang didalam sinar itu dan sekonyong-konyong menghilang ditelan cahaya.
Dan kemudian kelopak-kelopak bunga bewarna merah muda berjatuhan seperti menari dan sinar itu pun padam seketika. Kelopak-kelopak bunga menari-nari di udara dan sebagian menuju ke arahku.
Esok paginya aku terbangun. Sinar matahari menembuh begitu saja jendela kaca berandaku. Rupana aku tidak menutup jendela. Kepalaku agak sakit, sepertinya aku bermipi semalam. Aku hanya sendiri di kamarku. Aku juga tidak pasti dengan apa yang terjadi semalam. Tidak ada tanda-tanda Kaguya atau siapapun di kamarku semalam. Tapi rasanya nyata sekali. Entahlah. Aku pun mulai berpakaian.Hari ini aku akan sibuk di kampus dan di studio.
Namun ketika ku ke luar beranda, betapa kagetnya aku, ternyata ada banyak kelopak bunga bewarna merah muda berserakan. Ku kira bunga Sakura tidak tumbuh di Jakarta. Lagipula tidak ada yang menanam pohon Sakura di lantai 20, bukan? Sudahlah, aku juga tidak bisa menjelaskannya, aku harus segera ke studio, hari ini kami ada pemotretan kaguya lagi. Semalam aku bermimpi indah sekaligus aneh tentang kaguya. Tampaknya fantasi liarku kali ini sudah agak berlebihan.
Sesampainya di Studio, bertambah kagetlah aku. Ternyata tak seorangpun, termasuk Kak Victor tahu tentang Kaguya.
“Sejak kapan kita memotret model? Kita kan hanya memotret pemandangan. Sejak kapan pula ada yang bernama Kaguya?”
Sudahlah, tampaknya pikiranku sudah mulai tidak waras. Jomblo selama 22 tahun memang merusak otak. Atau aku sebaiknya ambil cuti kuliah. Kegiatan kuliah dan fotograferku menguras energiku sampai-sampai jiwaku pun ikut terguncang.
Malam ini di beranda apatemenku kupandangi Bulan. Masih bulan purnama seperti kemarin. Bulan sungguh indah. Kuambil kameraku dan kupotret Bulan purnama sebagai objek. Kameraku kamera dijital biasa, belum mampu aku membeli kamera yang mahal seperti yang dipakai para fotografer profesional.
Setelah beberapa jepretan, ternyata kejutan belum berakhir. Aku melihat sosok wajah seorang wanita sedang memandangku lembut. Mungkin mataku salah. Namun setelah kupindahkan ke lap top ku dan ku zoom untuk memperjelas. Ternyata itu wajah Kaguya sedang tersenyum tersamar dengan permukaan Bulan yang pucat. (des 08, HW)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar