Well, guys, dah lama banget ga nulis blog. terakhir thn 2009... wedew...
OK, sekarang mulai lagi ahhh nulis2 hal2 ringan, yah cm sekedar iseng... Bukan sesuatu yg ilmiah2 atau filosofis2 kok...
Sekarang saya mau ngomongin tentang salah satu perubahan drastis hidup saya sejak pegang benda yg namanya BLACKBERRY...
Walaupun BB saya cm BB kaum rakyat jelata (baca: gemini) tp gini2 BBku (apa sih gajebo banget!?)
Yg saya mau soroti (emang apaan coba?) adalah lampu merah kedap-kedip di kanan atas mesin yang kadang tidak terlalu pintar ini...
YUP siapapun juga manusia yg pake BB pasti ga akan tahan kalo lihat nih lampu dah kedap-kedip menandakan BB minta dipegang. Betapa tidak? Artinya kan ada mesej masuk. enah itu sms, bbm, twitter, fb atau e-mail atau notif dr bb app world.
nah yg beginian nih yg bisa bikin kerjaan lah, obrlan lah jd erhenti sejenak. Ribetnya fren, kl lg di jalan atau lg baca buku atau lg apa gt yg membutuhkan konsentrasi tinggi. Kalo nih lampu dah nyala, seolah2 nih BB berubah jadi penari striptease yg minta dipegang2....
Tapi bagaimanapun juga, kerjaan yah kerjaan. Kalo lg nyetir misalnya, yah jangan sampe konsntrasi buyar gara2 nih lampu kelap kelip... BAHAYA BOK!!!
OK deh, segitu aja. Gajebo kan? Ember...
pyrotic world
Kamis, 02 Juni 2011
Senin, 27 Juli 2009
Jakarta is so clean...
Bukan mimpi bukan ilusi
Jakarta kadang2 udarna bersih juga loh. Sayah juga gak tahu ada keajaiban apa, tapi ang asti udaranya bersih banget...
Foto ini diambil tanggal 27 Juli 2009 jam 3.55 pm pake kamera hape sayah dan lom diedit sama sekali...
Hmmm coba kalo bisa gini tiap hari... Udara bersih langit cerah... Wah, hati ini bisa ikutan cerah kayaknya.
hahahahahahaha
Tapi jarang2 tuh... makanya kita harus bisa mempertahankan ini...
This is not dream nor illusion
Jakarta sometimes, for somereasons, can be sooooo clean... I can't even call it a miracle or what... it's just clean... so clean... and clear
This photograph was taken at July 27th 2009 3.555 pm with my cellphone camera
If only Jakarta could be like this everyday. I think my heart can be this clean and clear too
hahahahahahahah
This is so rare, isn't it? That's why we should be able to keep it!
これは夢なんかじゃないよ幻想でもじゃないよ。
ジャカルタもたまにはクレイになるときもあるよ。^^ とにかく、トッテモきれいだったよ!!!魔法なんかないんだ。ただのきれいでビックリした。
この写真は2009年07月27日3時55分午後に撮ったものだ。携帯電話のカメラで撮ったやつだ。エディットなんてしないままそのままのものだ。
もし毎日ジャカルタじはこんなにきれいだたら。心も癒し晴れになる
あまらいないんだろう。だからジャカルタのきれいさを守ってあげたいんだ。
^^
Jakarta kadang2 udarna bersih juga loh. Sayah juga gak tahu ada keajaiban apa, tapi ang asti udaranya bersih banget...
Foto ini diambil tanggal 27 Juli 2009 jam 3.55 pm pake kamera hape sayah dan lom diedit sama sekali...
Hmmm coba kalo bisa gini tiap hari... Udara bersih langit cerah... Wah, hati ini bisa ikutan cerah kayaknya.
hahahahahahaha
Tapi jarang2 tuh... makanya kita harus bisa mempertahankan ini...
This is not dream nor illusion
Jakarta sometimes, for somereasons, can be sooooo clean... I can't even call it a miracle or what... it's just clean... so clean... and clear
This photograph was taken at July 27th 2009 3.555 pm with my cellphone camera
If only Jakarta could be like this everyday. I think my heart can be this clean and clear too
hahahahahahahah
This is so rare, isn't it? That's why we should be able to keep it!
これは夢なんかじゃないよ幻想でもじゃないよ。
ジャカルタもたまにはクレイになるときもあるよ。^^ とにかく、トッテモきれいだったよ!!!魔法なんかないんだ。ただのきれいでビックリした。
この写真は2009年07月27日3時55分午後に撮ったものだ。携帯電話のカメラで撮ったやつだ。エディットなんてしないままそのままのものだ。
もし毎日ジャカルタじはこんなにきれいだたら。心も癒し晴れになる
あまらいないんだろう。だからジャカルタのきれいさを守ってあげたいんだ。
^^
Rabu, 22 Juli 2009
cerpen (lom ada judul) wkwkwkwkwkwkwkw part 1
Aku melirik jam tanganku. Sudah jam lima sore, tapi matahari sudah di pelupuk barat. Akhir-akhir ini matahari memang pemalas. Baru jam lima tapi ia sudah buru-buru ke paraduannya. Sama seperti orang-orang ini yang dengan tergesa-gesa naik bus ini untuk pulang seolah-olah ada gas beracun diluar dan satu-satunya tempat teraman adalah di dalam bus ini.
Aku duduk ditempat favoritku. Baris ke tiga dari paling depan sebelah kanan persis sebelah jendela. Aku suka sekali duduk di tempat yang dekat dengan jendela. Jika sedang pengap, seperti sekarang, aku bias membuka jendela lebar-lebar dan wuzzz angin segar masuk. Jika bus sedang melaju dan anginnya terlalu besar aku tinggal menariknya kembali. Menguasai jendela di bus adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku.
Bus belum melaju juga, sedang menunggu muatan cukup penuh. Aku pun larut dalam lamunanku. Lamunan tidak jelasku. Kadang aku berkontemplasi, kadang aku mengkhayalkan sesuatu, kadang aku membaca, yah tergantung suasana hatiku saja.
Sore pun semakin temaram dan orang-orang pun tampak gelisah seolah-olah sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.Memang sih akhir-akhir ini tidak ada berita segar nan menyenangkan di televise atau di surat kabar. Mungkin juga karena mereka penat atau bosan dengan hari mereka yang monoton atau bagaimana, aku tidak tahu. Yang pasti mereka tampak ingin cepat-cepat pulang.
Kasak-kusuk mereka terburu-buru dalam kompetisi memperebutkan tempat duduk dalam bus sumpek ini. Siapa cekatan ia dapat bangku. Siapa kurang beruntung ia harus berdiri berdesak-desakan selama sisa waktu perjalanan pulang. Tetapi kompetisi berebutan oksigen berlaku bagi semua penghuni bus.
Matahari sudah tidak sabar lagi. Baru lima menit berlalu sejak aku mengecek jam tanganku tadi, tetapi ia sudah terburu-buru ingin segera ke dunia mimpinya. Di lain sisi langit, sang rembulan malah tampak penuh semangat mengeliatkan tubuhnya seraya mengucapkan “selamat pagi”. Bulan memang pantas diacungi jempol. Dengan langkah penuh keanggunan sambil memamerkan semarak sinar peraknya di atas karpet langit yang semakin temaram nan kelabu.
Tetapi, oh Tuhan… ada yang lebih cantik daripada bulan petang ini. Ada seorang bidadari yang sinarnya lebih memancar dari pada sang rembulan. Mungkin karena itu sang rembulan pun dengan penuh kecemburuan menutup wajahnya dengan awan.
Dan Tuhan memang baik. Entah keajaiban apa, bidadari itu duduk di sebelahku. Tampaknya Tuhan memang sudah mengatur dengan kuasa ajaib-Nya sehingga orang-orang yang penuh keberingasan berburu tempat duduk itu enggan duduk disebelahku. Padahal aku tidak buruk rupa, tidak bau badan atau apa pun. Pokoknya gadis itu sekarang duduk disebelahku. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.
Ia membawa banyak tas kantong plastik belanjaan. Ia habis shopping rupanya. Tangan kanannya memagang sebuah gelas plastik minuman kola, sementara tangan satunya lagi sibuk merogoh kantong jeans ketatnya untuk mengambil uang receh.
Rambutnya hitam lurus sebahu. Matanya tajam, bulu matanya lentik. Hidungnya mancung. Wajah… sempurna… Ia memakai kaos agak ketat bewarna biru dongker polos. Di lehernya teruntai sebuah kalung tipis bewarna keperakan. Dari platina kutebak. Dengan bandulan salib bewarna sama polos.
Ia kemudian menoleh ke arahku yang sedang memelototi kalungnya. Aku pun salah tingkah. Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung membuang pandanganku ke arah jendela, mengamati macetnya lalu lintas Jakarta jam 5.20 WIB. Oh Tuhan, apa yang ada d benakku? Aku harap ia tidak berpikir macam-macam tentang aku. Aku tidak sedang melihat, OK, yah, sedikit terlihat dadanya, sih. Tetapi yang menarik perhatianku adalah kalungnya. Ok, aku tahu alibiku kurang tepat dan aku tidak mau berdebat sekarang.
Bus sudah melaju sekarang. Tersedat-sedat dalam macet. Aku pun sedang berebut oksigen dengan seluruh mahluk dalam bus pengap ini. Sambil memandangi parasnya di pantulan kaca. Ia duduk tegap. Pandanganya lurus kedepan. Kali ini di sebelah kirinya suda ada seorang ibu duduk.
Kedua lengannya menggendong seluruh kantong plastik belanjaannya yang berjubel sambil tangan kanannya memegang gelas minuman. Aku pun asik menikmati pemandangan surgawi tersebut. Ingin sekali rasanya hati ini untuk membuka pembicaraannya. Oh Tuhan, aku harus bilang apa? Menanyakan depatement store mana saja yang sedang great sale? Kuasa itu bukan cara yang cukup anggun untuk memulai topik pembicaraan. Atau membicarakan kasus pengeboman hotel J.W. Marriot? Bagaimana kalau ia bilang bahwa ia lah perakit bom tersebut dan ia juga sekarang membawa bom yang sama dalam kantong plastik belanjaanya. Wew… Kurasa imajinasiku terlalu jauh.
Hatiku pun mulai memanjatkan doa supaya Tuhan bekerja dengan kuasa ajaib-Nya sehingga kami bisa memulai percakapan. Syukur-syukur berkenalan. Syukur-syukur bertukar nomor telepon. Aku sudah sering memberi sedekah kepada banyak pengemis dan pengamen. Kuharap Tuhan mau mempertimbangkan amal-amalku selama ini.
Sekarang jalan sudah agak lancar. Kulirik jam jam tanganku lagi. Jam lima lewat tiga puluh lima menit. Sekonyong-konyong saja bus yang kutumpangi berhenti mendadak. Beberapa penumpang teriak panik. Ada yang sumpah serapah pula dan byurr… Gelas minuman bidadari dsebelahku tumpah membasahi kemaja putihku. Dingin sekali rasanya. Sebenarnya mungkin rasanya menyegarkan disiram air dingin dalam suasana pengap seperti ini. Tapi tidak dengan air es. Selurus isi gelas plastic berisi es dan koa membasahi kemejaku dan celanaku.
“Maaf, maaf”
Dengan panik ia linglung seraya mengangkat kedua tangannya tidak tahu harus berbuat apa.
“Aduh, dinginnya..”
“Maaf, aku tidak sengaja…”
“Tidak apa-apa kok…”
Jawabku. Entah mengapa aku tidak merasa jengkel walaupun sekarang kemeja basahku yan dingin setengah hidup ini menempel di kulit dadaku yang kurus ini. Aku malah khawatir intonasi suaraku terdengar seperti orang jengkel. Tapi. Brrr… Dingin juga. Aku berusaha membuang sisa kola dan es ke lantai bus. Ia pun memasang ekspresi kebingungan.
“Maaf…” Katanya sekali lagi lirih.
“Tidak apa-apa kok.” Jawabku mengulang kata-kata yang sama lalu berusaha memalingkan muka ke arah jendela lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kemudian ia membuka salah satu kantong plastik belanjaannya. Ia tampak seperti mencari-cari sesuatu. Dengan segera ia mengeluarkan sebuah kaos wanita bewarna hitam denan motif love bewarna pink dan segera memasukannya kembali dan menukarna dengan sebuah kaos bewarna hitam bergambar love bewarna pink. Kaos situ tampak lebih besar daripada kaos yang sebelumnya.
“Ini. Tukarlah kemejamu.” Katanya dengan nada yang sama seperti tadi.
“Tidak usah kok, aku baik-baik saja.” Tolakku agak gelagapan.
“Jangan nanti kamu masuk angin.”
“Tidak apa-apa kok, beneran!”
Tapi ia memasang wajah tambah kebingungan. Ekspresi wajahnya tampak ia makin kebingunagn dan bersalah.
“Tidak apa-apa kok… Pakai ini saja…” Desaknya sekali lagi.
“Te, terima kasih.” Kataku sambil mengambil kaos tesebut dari tangannya.
Aku pun mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dan membuka kemeja basahku lalu melipatnya seadanya.
Ia sambil menatapku dengan penuh perasan menyesal mengambil kemeja basahku dan melipatnya dengan lebih rapih dan menyerahkannya kembali padaku. Aku menerimanya, menaruh di pangkuanku lalu memasukan kaos hitam pemberiannya ke kepelaku dan memakainya. Pas sekali di badanku. Bau baju baru masih tercium di kaos yang kukenakan sekarang.
“Te, Terima kasih.” Jawabku dengan nada yang sama.
Ia pun tersenyum simpul sambil tidak menghilangkan ekspresi menyesalnya.
Tiba-tiba kami ternyata sudah sampai di tempat pemberhentiannya.
“Maaf, aku turun disini. Sekali lagi maaf yah.”
“A..”
Aku belum sempat berkata apa-apa ia tergesa-gesa berusah menerobos orang-orang yang berdesakan untuk segera turun. Ia sempat menolehkan kembali wajahnya sehingga mata kambertemu. Tapi aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun turun dari bus begitu saja. Dan aku pun masih melongo. Tak ada beberapa detik setelah itu bus pun kembali melaju. Aku pun belum sempat memikirkan apa-apa. Bahkan aku belum menanyakan namanya…
Aku duduk ditempat favoritku. Baris ke tiga dari paling depan sebelah kanan persis sebelah jendela. Aku suka sekali duduk di tempat yang dekat dengan jendela. Jika sedang pengap, seperti sekarang, aku bias membuka jendela lebar-lebar dan wuzzz angin segar masuk. Jika bus sedang melaju dan anginnya terlalu besar aku tinggal menariknya kembali. Menguasai jendela di bus adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku.
Bus belum melaju juga, sedang menunggu muatan cukup penuh. Aku pun larut dalam lamunanku. Lamunan tidak jelasku. Kadang aku berkontemplasi, kadang aku mengkhayalkan sesuatu, kadang aku membaca, yah tergantung suasana hatiku saja.
Sore pun semakin temaram dan orang-orang pun tampak gelisah seolah-olah sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.Memang sih akhir-akhir ini tidak ada berita segar nan menyenangkan di televise atau di surat kabar. Mungkin juga karena mereka penat atau bosan dengan hari mereka yang monoton atau bagaimana, aku tidak tahu. Yang pasti mereka tampak ingin cepat-cepat pulang.
Kasak-kusuk mereka terburu-buru dalam kompetisi memperebutkan tempat duduk dalam bus sumpek ini. Siapa cekatan ia dapat bangku. Siapa kurang beruntung ia harus berdiri berdesak-desakan selama sisa waktu perjalanan pulang. Tetapi kompetisi berebutan oksigen berlaku bagi semua penghuni bus.
Matahari sudah tidak sabar lagi. Baru lima menit berlalu sejak aku mengecek jam tanganku tadi, tetapi ia sudah terburu-buru ingin segera ke dunia mimpinya. Di lain sisi langit, sang rembulan malah tampak penuh semangat mengeliatkan tubuhnya seraya mengucapkan “selamat pagi”. Bulan memang pantas diacungi jempol. Dengan langkah penuh keanggunan sambil memamerkan semarak sinar peraknya di atas karpet langit yang semakin temaram nan kelabu.
Tetapi, oh Tuhan… ada yang lebih cantik daripada bulan petang ini. Ada seorang bidadari yang sinarnya lebih memancar dari pada sang rembulan. Mungkin karena itu sang rembulan pun dengan penuh kecemburuan menutup wajahnya dengan awan.
Dan Tuhan memang baik. Entah keajaiban apa, bidadari itu duduk di sebelahku. Tampaknya Tuhan memang sudah mengatur dengan kuasa ajaib-Nya sehingga orang-orang yang penuh keberingasan berburu tempat duduk itu enggan duduk disebelahku. Padahal aku tidak buruk rupa, tidak bau badan atau apa pun. Pokoknya gadis itu sekarang duduk disebelahku. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.
Ia membawa banyak tas kantong plastik belanjaan. Ia habis shopping rupanya. Tangan kanannya memagang sebuah gelas plastik minuman kola, sementara tangan satunya lagi sibuk merogoh kantong jeans ketatnya untuk mengambil uang receh.
Rambutnya hitam lurus sebahu. Matanya tajam, bulu matanya lentik. Hidungnya mancung. Wajah… sempurna… Ia memakai kaos agak ketat bewarna biru dongker polos. Di lehernya teruntai sebuah kalung tipis bewarna keperakan. Dari platina kutebak. Dengan bandulan salib bewarna sama polos.
Ia kemudian menoleh ke arahku yang sedang memelototi kalungnya. Aku pun salah tingkah. Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung membuang pandanganku ke arah jendela, mengamati macetnya lalu lintas Jakarta jam 5.20 WIB. Oh Tuhan, apa yang ada d benakku? Aku harap ia tidak berpikir macam-macam tentang aku. Aku tidak sedang melihat, OK, yah, sedikit terlihat dadanya, sih. Tetapi yang menarik perhatianku adalah kalungnya. Ok, aku tahu alibiku kurang tepat dan aku tidak mau berdebat sekarang.
Bus sudah melaju sekarang. Tersedat-sedat dalam macet. Aku pun sedang berebut oksigen dengan seluruh mahluk dalam bus pengap ini. Sambil memandangi parasnya di pantulan kaca. Ia duduk tegap. Pandanganya lurus kedepan. Kali ini di sebelah kirinya suda ada seorang ibu duduk.
Kedua lengannya menggendong seluruh kantong plastik belanjaannya yang berjubel sambil tangan kanannya memegang gelas minuman. Aku pun asik menikmati pemandangan surgawi tersebut. Ingin sekali rasanya hati ini untuk membuka pembicaraannya. Oh Tuhan, aku harus bilang apa? Menanyakan depatement store mana saja yang sedang great sale? Kuasa itu bukan cara yang cukup anggun untuk memulai topik pembicaraan. Atau membicarakan kasus pengeboman hotel J.W. Marriot? Bagaimana kalau ia bilang bahwa ia lah perakit bom tersebut dan ia juga sekarang membawa bom yang sama dalam kantong plastik belanjaanya. Wew… Kurasa imajinasiku terlalu jauh.
Hatiku pun mulai memanjatkan doa supaya Tuhan bekerja dengan kuasa ajaib-Nya sehingga kami bisa memulai percakapan. Syukur-syukur berkenalan. Syukur-syukur bertukar nomor telepon. Aku sudah sering memberi sedekah kepada banyak pengemis dan pengamen. Kuharap Tuhan mau mempertimbangkan amal-amalku selama ini.
Sekarang jalan sudah agak lancar. Kulirik jam jam tanganku lagi. Jam lima lewat tiga puluh lima menit. Sekonyong-konyong saja bus yang kutumpangi berhenti mendadak. Beberapa penumpang teriak panik. Ada yang sumpah serapah pula dan byurr… Gelas minuman bidadari dsebelahku tumpah membasahi kemaja putihku. Dingin sekali rasanya. Sebenarnya mungkin rasanya menyegarkan disiram air dingin dalam suasana pengap seperti ini. Tapi tidak dengan air es. Selurus isi gelas plastic berisi es dan koa membasahi kemejaku dan celanaku.
“Maaf, maaf”
Dengan panik ia linglung seraya mengangkat kedua tangannya tidak tahu harus berbuat apa.
“Aduh, dinginnya..”
“Maaf, aku tidak sengaja…”
“Tidak apa-apa kok…”
Jawabku. Entah mengapa aku tidak merasa jengkel walaupun sekarang kemeja basahku yan dingin setengah hidup ini menempel di kulit dadaku yang kurus ini. Aku malah khawatir intonasi suaraku terdengar seperti orang jengkel. Tapi. Brrr… Dingin juga. Aku berusaha membuang sisa kola dan es ke lantai bus. Ia pun memasang ekspresi kebingungan.
“Maaf…” Katanya sekali lagi lirih.
“Tidak apa-apa kok.” Jawabku mengulang kata-kata yang sama lalu berusaha memalingkan muka ke arah jendela lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kemudian ia membuka salah satu kantong plastik belanjaannya. Ia tampak seperti mencari-cari sesuatu. Dengan segera ia mengeluarkan sebuah kaos wanita bewarna hitam denan motif love bewarna pink dan segera memasukannya kembali dan menukarna dengan sebuah kaos bewarna hitam bergambar love bewarna pink. Kaos situ tampak lebih besar daripada kaos yang sebelumnya.
“Ini. Tukarlah kemejamu.” Katanya dengan nada yang sama seperti tadi.
“Tidak usah kok, aku baik-baik saja.” Tolakku agak gelagapan.
“Jangan nanti kamu masuk angin.”
“Tidak apa-apa kok, beneran!”
Tapi ia memasang wajah tambah kebingungan. Ekspresi wajahnya tampak ia makin kebingunagn dan bersalah.
“Tidak apa-apa kok… Pakai ini saja…” Desaknya sekali lagi.
“Te, terima kasih.” Kataku sambil mengambil kaos tesebut dari tangannya.
Aku pun mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dan membuka kemeja basahku lalu melipatnya seadanya.
Ia sambil menatapku dengan penuh perasan menyesal mengambil kemeja basahku dan melipatnya dengan lebih rapih dan menyerahkannya kembali padaku. Aku menerimanya, menaruh di pangkuanku lalu memasukan kaos hitam pemberiannya ke kepelaku dan memakainya. Pas sekali di badanku. Bau baju baru masih tercium di kaos yang kukenakan sekarang.
“Te, Terima kasih.” Jawabku dengan nada yang sama.
Ia pun tersenyum simpul sambil tidak menghilangkan ekspresi menyesalnya.
Tiba-tiba kami ternyata sudah sampai di tempat pemberhentiannya.
“Maaf, aku turun disini. Sekali lagi maaf yah.”
“A..”
Aku belum sempat berkata apa-apa ia tergesa-gesa berusah menerobos orang-orang yang berdesakan untuk segera turun. Ia sempat menolehkan kembali wajahnya sehingga mata kambertemu. Tapi aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun turun dari bus begitu saja. Dan aku pun masih melongo. Tak ada beberapa detik setelah itu bus pun kembali melaju. Aku pun belum sempat memikirkan apa-apa. Bahkan aku belum menanyakan namanya…
Rabu, 08 Juli 2009
Keajaiban Alam
Dah lama ga nulis blog... Baru kesampean hahahahahaha. Ok sekaran w pengen nulis tentang hal2 aneh bin menari disekitar gw...
Baru2 ini pas gw berangkat ke Atma tercinta, gw menemuka sebuath fenomena ajaib...
Apakah itu?
Gw menemuakn sejoli keong sedang kawin di tengah jalan... wahahahahahahaha
KOK BISA? KEONG kan hermaprodite? Yah MNKTH... itu namanya keajaiban alam...
Well Guys.. Kalo kalian ragu bahwa mukjizat itu nyata apa enggak? kalain harus melihat sepasang keong kawin... Maka kalian akan mendapat pencerahan... Walau belum tentu langsung dapet Nirwana... hahahahahahahaha
Pisss...
Minggu, 14 Juni 2009
Film aneh
Guys... tadi gw iseng2 ke bioskop. Ga niat nonton sih pgn tahu aja di Lippo 21 ada pilem apa. Tak disangka rak diduga. Dari 7 teater 3 diantaranya muter KCB. hahahaha. Gw sih ga ada niat pgn lihat nonton nih pilem. Judulnya aja dah ga menarik perhatian gw. Tapi ada satu hal yg menarik perhatian gw... di posternya ditulis Dijamin asli Mesir. Apa maksudnya coba?
jadi filmnya tuh menjual Mesir? Emang bisa cobain Mesir? martabak mesir? Hahahahahahaha... dari posternya dah ketebak jalan ceritanya. Secara ada satu tokoh yang ekspresi mukanya dijahat2in jadi dah diduga dialah tokoh jahatnya... Dan seperti film Indo pada umumnya tokoh baiknya pasti yang menderita nangis melulu, baru yg jahat kalah terakhir... Hahahaahahahhaha
Senin, 08 Juni 2009
watashi ni hibikasete
Guys, hari minggu gw diajak etmen ikut ke pertemuan Quessnet, yah walalupun mereka menolak disebut MLM, tapi gampangnya disebut MLM. hahahahahaha
Tapi that's not the pont I'd like to point out right now. Kizukeba when I realize, tiba2 gw nyadar, gw dah tua.. uhuk uhuk... dah 24 tahun... Dan amsih mengandalkan usang jajan, terus omongannya masih seputar ujian... Hahahahahaha
Emang sih kan start gw sebagai dokter belakangan. Tapi kalo ngelihat orang2 lain yg mulai menghasilkan duid kepincut jg... U wabnt to make money besar atau kecil ga masalah...
Bukan apa-apa, gw mikir (atas referensi pemikiran beberapa orang) Udah saatnya gw membuat tujuan/target2 dalam hidup. Udah bukan saatnya lagi gw berpikir sekedar wg mau jadi dokter mabrur yang sukses... kaya raya dan hidup bahagia selamanya. tapi gw mjusti set tanggal2nya. DEADLINE!!
Karena itu kalo bisa gw mao dah punya penghasilan sekarang. yah itung2 buat beli baju lah... CD ayumi lah... hura2... tapi gw pengen punya penghasilan gitu...
Selain itu gw jg pengen punya target dalam hidup gw... Mungkin setelah jadi dokter gw dibeliin (insya allah) mobil. Tapi gw jg pgn beli mobil atas usaha sendiri. Pengen punya apartemen mewah kayak di Sex and The City The ovie lengkap dgn pohon jambu (hehehehe) Gitilah.. dan itu semua harus ada deadlinenya.
nah, guys... Gw berpikir, kita kan dah dewasa nih... Dan sebagai teman, and more than just teman... Gw pengen tahu pemikiran teman2... Kita berteman bukan sekedar hahaha hihihi senangnya rasa hati... tapi sebagai teman juga yg bisa saling membangun. Bukan saatnya lagi kita cuman mikirin kesenangan sesaat, mau nonton apa atau makan dimana... tapi juga... saling memberi inspirasi dalam hidup. Jadi kita semua punya tujuan hidup yang jelas...
guys... tomorrow is now...
What do you want in your life? What to preapare for your future... and your financial too... let me know... watashi ni hibikasete...
Tapi that's not the pont I'd like to point out right now. Kizukeba when I realize, tiba2 gw nyadar, gw dah tua.. uhuk uhuk... dah 24 tahun... Dan amsih mengandalkan usang jajan, terus omongannya masih seputar ujian... Hahahahahaha
Emang sih kan start gw sebagai dokter belakangan. Tapi kalo ngelihat orang2 lain yg mulai menghasilkan duid kepincut jg... U wabnt to make money besar atau kecil ga masalah...
Bukan apa-apa, gw mikir (atas referensi pemikiran beberapa orang) Udah saatnya gw membuat tujuan/target2 dalam hidup. Udah bukan saatnya lagi gw berpikir sekedar wg mau jadi dokter mabrur yang sukses... kaya raya dan hidup bahagia selamanya. tapi gw mjusti set tanggal2nya. DEADLINE!!
Karena itu kalo bisa gw mao dah punya penghasilan sekarang. yah itung2 buat beli baju lah... CD ayumi lah... hura2... tapi gw pengen punya penghasilan gitu...
Selain itu gw jg pengen punya target dalam hidup gw... Mungkin setelah jadi dokter gw dibeliin (insya allah) mobil. Tapi gw jg pgn beli mobil atas usaha sendiri. Pengen punya apartemen mewah kayak di Sex and The City The ovie lengkap dgn pohon jambu (hehehehe) Gitilah.. dan itu semua harus ada deadlinenya.
nah, guys... Gw berpikir, kita kan dah dewasa nih... Dan sebagai teman, and more than just teman... Gw pengen tahu pemikiran teman2... Kita berteman bukan sekedar hahaha hihihi senangnya rasa hati... tapi sebagai teman juga yg bisa saling membangun. Bukan saatnya lagi kita cuman mikirin kesenangan sesaat, mau nonton apa atau makan dimana... tapi juga... saling memberi inspirasi dalam hidup. Jadi kita semua punya tujuan hidup yang jelas...
guys... tomorrow is now...
What do you want in your life? What to preapare for your future... and your financial too... let me know... watashi ni hibikasete...
Senin, 25 Mei 2009
Last day in Semarang
All my bags are packed and I'm ready to go... already I'm so lonesome I could die...
cause I'm leaving on a jet plane, don't know when I';;; be back again
Banyak kenangan di Semarang... aku sedih meninggalkan Semarang. Kapan waktu aku pasti balik ke Semarang untuk ketemu temen2 disini... The Cing Cing will be back...
I'm gonna miss you so much guys... Just like already I am...
cause I'm leaving on a jet plane, don't know when I';;; be back again
Banyak kenangan di Semarang... aku sedih meninggalkan Semarang. Kapan waktu aku pasti balik ke Semarang untuk ketemu temen2 disini... The Cing Cing will be back...
I'm gonna miss you so much guys... Just like already I am...
Langganan:
Postingan (Atom)