Rabu, 22 Juli 2009

cerpen (lom ada judul) wkwkwkwkwkwkwkw part 1

Aku melirik jam tanganku. Sudah jam lima sore, tapi matahari sudah di pelupuk barat. Akhir-akhir ini matahari memang pemalas. Baru jam lima tapi ia sudah buru-buru ke paraduannya. Sama seperti orang-orang ini yang dengan tergesa-gesa naik bus ini untuk pulang seolah-olah ada gas beracun diluar dan satu-satunya tempat teraman adalah di dalam bus ini.

Aku duduk ditempat favoritku. Baris ke tiga dari paling depan sebelah kanan persis sebelah jendela. Aku suka sekali duduk di tempat yang dekat dengan jendela. Jika sedang pengap, seperti sekarang, aku bias membuka jendela lebar-lebar dan wuzzz angin segar masuk. Jika bus sedang melaju dan anginnya terlalu besar aku tinggal menariknya kembali. Menguasai jendela di bus adalah sebuah kesenangan tersendiri bagiku.

Bus belum melaju juga, sedang menunggu muatan cukup penuh. Aku pun larut dalam lamunanku. Lamunan tidak jelasku. Kadang aku berkontemplasi, kadang aku mengkhayalkan sesuatu, kadang aku membaca, yah tergantung suasana hatiku saja.

Sore pun semakin temaram dan orang-orang pun tampak gelisah seolah-olah sesuatu yang sangat buruk akan segera terjadi.Memang sih akhir-akhir ini tidak ada berita segar nan menyenangkan di televise atau di surat kabar. Mungkin juga karena mereka penat atau bosan dengan hari mereka yang monoton atau bagaimana, aku tidak tahu. Yang pasti mereka tampak ingin cepat-cepat pulang.

Kasak-kusuk mereka terburu-buru dalam kompetisi memperebutkan tempat duduk dalam bus sumpek ini. Siapa cekatan ia dapat bangku. Siapa kurang beruntung ia harus berdiri berdesak-desakan selama sisa waktu perjalanan pulang. Tetapi kompetisi berebutan oksigen berlaku bagi semua penghuni bus.

Matahari sudah tidak sabar lagi. Baru lima menit berlalu sejak aku mengecek jam tanganku tadi, tetapi ia sudah terburu-buru ingin segera ke dunia mimpinya. Di lain sisi langit, sang rembulan malah tampak penuh semangat mengeliatkan tubuhnya seraya mengucapkan “selamat pagi”. Bulan memang pantas diacungi jempol. Dengan langkah penuh keanggunan sambil memamerkan semarak sinar peraknya di atas karpet langit yang semakin temaram nan kelabu.

Tetapi, oh Tuhan… ada yang lebih cantik daripada bulan petang ini. Ada seorang bidadari yang sinarnya lebih memancar dari pada sang rembulan. Mungkin karena itu sang rembulan pun dengan penuh kecemburuan menutup wajahnya dengan awan.

Dan Tuhan memang baik. Entah keajaiban apa, bidadari itu duduk di sebelahku. Tampaknya Tuhan memang sudah mengatur dengan kuasa ajaib-Nya sehingga orang-orang yang penuh keberingasan berburu tempat duduk itu enggan duduk disebelahku. Padahal aku tidak buruk rupa, tidak bau badan atau apa pun. Pokoknya gadis itu sekarang duduk disebelahku. Sungguh anugerah Tuhan yang luar biasa.

Ia membawa banyak tas kantong plastik belanjaan. Ia habis shopping rupanya. Tangan kanannya memagang sebuah gelas plastik minuman kola, sementara tangan satunya lagi sibuk merogoh kantong jeans ketatnya untuk mengambil uang receh.

Rambutnya hitam lurus sebahu. Matanya tajam, bulu matanya lentik. Hidungnya mancung. Wajah… sempurna… Ia memakai kaos agak ketat bewarna biru dongker polos. Di lehernya teruntai sebuah kalung tipis bewarna keperakan. Dari platina kutebak. Dengan bandulan salib bewarna sama polos.

Ia kemudian menoleh ke arahku yang sedang memelototi kalungnya. Aku pun salah tingkah. Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung membuang pandanganku ke arah jendela, mengamati macetnya lalu lintas Jakarta jam 5.20 WIB. Oh Tuhan, apa yang ada d benakku? Aku harap ia tidak berpikir macam-macam tentang aku. Aku tidak sedang melihat, OK, yah, sedikit terlihat dadanya, sih. Tetapi yang menarik perhatianku adalah kalungnya. Ok, aku tahu alibiku kurang tepat dan aku tidak mau berdebat sekarang.

Bus sudah melaju sekarang. Tersedat-sedat dalam macet. Aku pun sedang berebut oksigen dengan seluruh mahluk dalam bus pengap ini. Sambil memandangi parasnya di pantulan kaca. Ia duduk tegap. Pandanganya lurus kedepan. Kali ini di sebelah kirinya suda ada seorang ibu duduk.

Kedua lengannya menggendong seluruh kantong plastik belanjaannya yang berjubel sambil tangan kanannya memegang gelas minuman. Aku pun asik menikmati pemandangan surgawi tersebut. Ingin sekali rasanya hati ini untuk membuka pembicaraannya. Oh Tuhan, aku harus bilang apa? Menanyakan depatement store mana saja yang sedang great sale? Kuasa itu bukan cara yang cukup anggun untuk memulai topik pembicaraan. Atau membicarakan kasus pengeboman hotel J.W. Marriot? Bagaimana kalau ia bilang bahwa ia lah perakit bom tersebut dan ia juga sekarang membawa bom yang sama dalam kantong plastik belanjaanya. Wew… Kurasa imajinasiku terlalu jauh.

Hatiku pun mulai memanjatkan doa supaya Tuhan bekerja dengan kuasa ajaib-Nya sehingga kami bisa memulai percakapan. Syukur-syukur berkenalan. Syukur-syukur bertukar nomor telepon. Aku sudah sering memberi sedekah kepada banyak pengemis dan pengamen. Kuharap Tuhan mau mempertimbangkan amal-amalku selama ini.

Sekarang jalan sudah agak lancar. Kulirik jam jam tanganku lagi. Jam lima lewat tiga puluh lima menit. Sekonyong-konyong saja bus yang kutumpangi berhenti mendadak. Beberapa penumpang teriak panik. Ada yang sumpah serapah pula dan byurr… Gelas minuman bidadari dsebelahku tumpah membasahi kemaja putihku. Dingin sekali rasanya. Sebenarnya mungkin rasanya menyegarkan disiram air dingin dalam suasana pengap seperti ini. Tapi tidak dengan air es. Selurus isi gelas plastic berisi es dan koa membasahi kemejaku dan celanaku.

“Maaf, maaf”
Dengan panik ia linglung seraya mengangkat kedua tangannya tidak tahu harus berbuat apa.
“Aduh, dinginnya..”
“Maaf, aku tidak sengaja…”
“Tidak apa-apa kok…”
Jawabku. Entah mengapa aku tidak merasa jengkel walaupun sekarang kemeja basahku yan dingin setengah hidup ini menempel di kulit dadaku yang kurus ini. Aku malah khawatir intonasi suaraku terdengar seperti orang jengkel. Tapi. Brrr… Dingin juga. Aku berusaha membuang sisa kola dan es ke lantai bus. Ia pun memasang ekspresi kebingungan.

“Maaf…” Katanya sekali lagi lirih.
“Tidak apa-apa kok.” Jawabku mengulang kata-kata yang sama lalu berusaha memalingkan muka ke arah jendela lagi seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Kemudian ia membuka salah satu kantong plastik belanjaannya. Ia tampak seperti mencari-cari sesuatu. Dengan segera ia mengeluarkan sebuah kaos wanita bewarna hitam denan motif love bewarna pink dan segera memasukannya kembali dan menukarna dengan sebuah kaos bewarna hitam bergambar love bewarna pink. Kaos situ tampak lebih besar daripada kaos yang sebelumnya.
“Ini. Tukarlah kemejamu.” Katanya dengan nada yang sama seperti tadi.
“Tidak usah kok, aku baik-baik saja.” Tolakku agak gelagapan.
“Jangan nanti kamu masuk angin.”
“Tidak apa-apa kok, beneran!”
Tapi ia memasang wajah tambah kebingungan. Ekspresi wajahnya tampak ia makin kebingunagn dan bersalah.

“Tidak apa-apa kok… Pakai ini saja…” Desaknya sekali lagi.
“Te, terima kasih.” Kataku sambil mengambil kaos tesebut dari tangannya.
Aku pun mulai membuka kancing kemejaku satu persatu dan membuka kemeja basahku lalu melipatnya seadanya.

Ia sambil menatapku dengan penuh perasan menyesal mengambil kemeja basahku dan melipatnya dengan lebih rapih dan menyerahkannya kembali padaku. Aku menerimanya, menaruh di pangkuanku lalu memasukan kaos hitam pemberiannya ke kepelaku dan memakainya. Pas sekali di badanku. Bau baju baru masih tercium di kaos yang kukenakan sekarang.

“Te, Terima kasih.” Jawabku dengan nada yang sama.
Ia pun tersenyum simpul sambil tidak menghilangkan ekspresi menyesalnya.

Tiba-tiba kami ternyata sudah sampai di tempat pemberhentiannya.

“Maaf, aku turun disini. Sekali lagi maaf yah.”

“A..”
Aku belum sempat berkata apa-apa ia tergesa-gesa berusah menerobos orang-orang yang berdesakan untuk segera turun. Ia sempat menolehkan kembali wajahnya sehingga mata kambertemu. Tapi aku masih tidak bisa berkata apa-apa. Ia pun turun dari bus begitu saja. Dan aku pun masih melongo. Tak ada beberapa detik setelah itu bus pun kembali melaju. Aku pun belum sempat memikirkan apa-apa. Bahkan aku belum menanyakan namanya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar